Masalahnya adalah, ada juga seseorang yang perfeksionis namun tetap ingin bepergian dengan cara backpacker. Nah, ini adalah sebuah tantangan tersendiri. Baiklah, menurut hal tersebut, saya menyimpulkan ada tiga tipe orang yang bepergian dengan cara backpacker, yaitu :
1. Backpacker santai
Backpacker santai adalah seseorang yang melakukan perjalanan wisata ke suatu tempat atau daerah baru dengan tidak memikirkan dan membuat itinerary sama sekali sebelumnya. Orang dengan tipe ini sangat menyukai tantangan dan menyukai hal-hal baru yang bisa saja ditemui. Tidak ada itinerary khusus hari ini harus kemana, jam berapa sampai jam berapa, let it flow aja kaya angin yang bertiup di pepohonan. Halah
Banyak alasan mengapa seseorang melakukan backpacker dengan cara ini, seperti misalnya tidak ingin terikat dengan itinerary, tidak sempat membuat itinerary karena jadwal sibuk bekerja maupun jadwal bepergian yang sudah mepet. Apapun alasannya, orang dengan tipe backpacker sepenuhnya ini sangat easy going. Jadi kamu yang heboh pengen kesana-kesini di suatu tempat baru sebaiknya jangan mengikuti orang dengan tipe backpacker yang sangat santai ini.
Tipe orang kedua adalah orang yang backpacker namun tidak menolak itinerary. Selain itu, orang tersebut sangat prinsipil, perfeksionis, dan ekonomis digabungkan jadi satu. Nah kan horor. Tipe orang ekonomis tentu menyukai segala sesuatu yang berbau hemat, iya dong. Nah orang tipe ini biasanya sempat nggak sempat, harus sempat untuk membuat itinenary sebelum bepergian, browsing dan searching kesana-kemari untuk menemukan lokasi-lokasi strategis untuk tempat makan murah, booking hotel murah, booking pesawat dan kereta di tanggal berapa yang bisa banyak diskon, dan lain sebagainya.
Tipe orang kedua bisa disebut juga sebagai tipe bepergian study tour (mirip jaman SMP / SMA) yang strict banget sama waktu. Yak, pukul 12.00 tepat harus makan siang di bla bla, kemudian jam 13.00 - 14.30 harus di bla bla bla. Hahaa.. Pusing deh
Tipe ketiga adalah tipe orang backpacker yang tidak ikut jasa tour, alias booking tiket-tiket transportasi dan hotel, dan masuk wisata sendiri, dan tidak menolak untuk membuat itinerary, namun jauh lebih fleksibel terhadap jadwal itinerary tersebut.
Tidak ada salahnya booking murah tiket perjalanan jauh-jauh hari, toh sisa waktu bisa digunakan untuk menabung dan browsing tempat-tempat yang ingin dikunjungi. Awalnya orang dengan tipe ini membuat itinerary mirip dengan tipe nomor dua, hari pertama pagi sampai siang ke tempat bla bla bla, dan seterusnya. Bedanya adalah apabila di perjalanan menemukan tempat baru, atau tempat makan baru yang asing tapi ingin dicoba, maka orang ini tidak akan segan untuk berbelok dan berhenti di tempat tersebut. Dengan kata lain, melenceng dari jadwal itinerary yang sudah disusun sebelumnya. Untuk waktu, tipe backpacker ketiga ini tidak terlalu strict dengan waktu asal tidak keterlaluan. Maksudnya melencengnya siang sampai sore pas sunset begitu ya mending potong salah satu destinasi wisata di itinerary saja daripada tetap memaksakan kesana.
Dari ketiga kriteria diatas, kebetulan saya adalah tipe orang dengan tipe backpacker nomor 3 (backpacker beritinerary dan fleksibel). Jadi pernah suatu ketika saya sudah membuat rencana perjalanan setelah menonton pertunjukan Tari Barong di daerah Batu Bulan, Bali kemudian ingin langsung menuju ke Desa Penglipuran di Bangli. Siapa sangka di jalan saya melewati sebuah Pura yang sangat indah dan besar bernama Pura Puseh Batuan. Tanpa pikir panjang, saya langsung belok ke Pura ini dan menyempatkan beberapa waktu disana. Lebih enak bepergian dengan orang dengan tipe backpacker ketiga ini lho, jadi tidak terlalu strict seperti study tour, namun juga tetap memiliki pandangan dan tujuan destinasi ingin kemana saja *sorry ini murni opini, bukan promosi diri sendiri. haha
Bisa dimaklumi apabila bepergian ke suatu wilayah atau tempat baru yang belum pernah dikunjungi sebelumnya, kita selalu berpandangan untuk sebisa mungkin dapat melihat, syukur-syukur menjelajah tempat-tempat baru tersebut. Karena ‘mumpung udah disini’, ‘jarang-jarang bisa kesini lagi’, dan alasan-alasan yang lainnya. Masuk akal sih menurut saya. Tapi ya itu tadi, kalau bisa jangan ketat-ketat kaya celana senam itinerary study tour. Gak apa-apalah sesekali dapat tempat makan yang mahal, asal enak dan memang high recommend dari orang atau internet. Nggak ada salahnya mencoba hal baru kan?
0 comments:
Post a Comment
Add Coments Below :